Rabu, 26 Desember 2012
Munas FK-OSI 2012: Banyumas Mantapkan Aplikasi SIMKAH
Seluruh KUA di Banyumas terus memantapkan dan kaderisasi operator Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) untuk terus meningkatkan pelayanan di KUA. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh KUA di Kabupaten Banyumas telah mempergunakan program SIMKAH untuk pelayanan sejak tahun 2011, salah satu out put-nya adalah cetak buku nikah dengan printer pas book. Seluruh KUA di kabupaten Banyumas telah mempunyai printer pass book.
"Genthong" dan SIMKAH
"Genthong" dan SIMKAH
Catatan Perjalanan Menuju Munas FK-OSI di Cipanas
Sabtu, 22-12-2012. Matahari mulai
beranjak 'lingsir' ke arah barat, tak terasa sambil sedikit ngantuk, perjalanan
sudah sampai Tasikmalaya. "Yuk kita shalat dulu!!", ajak salah satu
rombongan di dalam mobil. Tanpa persetujuan lama diantara teman2 bertujuh,
teman kita yang juga menjadi driver membelokkan mobilnya dan parkir tepat di
pelataran masjid yang luas. "Masjid salafy?" celetuk teman yang lain.
"Ah, gak masalah" jawabku, yang penting kita bisa shalat dengan
dijamak taqdim dengan shalat 'Ashar, sehingga perjalanan nanti bisa lebih
santai.
“Mbakso dulu yuk, tuh ada bakul
bakso”, ‘Sang Presiden’ mengajak kita untuk mengakhiri rasa lapar. Baksonya
besar-besar, benar-benar besar. Diantara kita, sambil ngantri bakso yang sudah
di pesan, berkeliaran melakukan aktivitas masing-masing untuk meredakan rasa
letih, ada yang bergegas menuju ke toilet, da yang langsung mengmbil air wudlu
dan ada yang duduk-duduk di tempat yang teduh di bawah pohon, dan ada yang
langsung melahap bakso yang sudah dibuatkan oleh si penjual kaki lima tersebut.
Rasa lapar berkurang, karena
orang Jawa selalu makan nasi, maka setelah ‘mbakso’pun masih ada rasa-rasa
kurang sedikit, masih perlu diisi lagi. Ternyata kami sepakat makan sore harus
tetap diagendakan. Setelah semuanya shalat, kami meneruskan perjalanan panjang, hujan dan
gerimis berselang menemani perjalanan kami dengan ngobrol tentang Simkah dan
FK-OSI, dan juga Munas yang akan berlangsung.
Matahari makin menguning bahkan
asap langit semakin menggumpal gelap, walau waktu ‘Ashar masih agak panjang,
tetapi kelihatan Maghrib hendak menghampiri. Kusandarkan kepalaku di kaca mobil
sebelah kiri, mata menerabas ke tetumbuhan dan sawah serta pepohonan nan rimbun.
Deru mobil terus membahana walau tak secepat yang kita kehendaki, karena
disamping jalan yan licin juga banyaknya kendaraan menjelang Natal semakin
merayap, “mau macet nih”, kataku dalam hati. Belum bisa dikatakan macet karena
mobil masih bisa berlari walau tak kencang, tetapi terkadang sesekali harus
melambat menyesuaikan jalan.
Satu persatu diantara kami ada
yang ngantuk, ada yang pura-pura ngantuk dan ada yang tidak ngantuk tetapi
hening membahana, riuh tawa sudah tak kedengaran lagi. Rupa-rupanya perut kami
ada yang ‘mengingatkan’ kalau ia harus diisi, diantara kami bertugas untuk
mencari-cari tulisan rumah makan dari balik jendela kaca mobil. “Saung
....saung... dan saung.... “ sering kami baca dipinggir jalan. Tapi kami tak
yakin, mobil tetap melaju. Kebetulan disebelah kanan jalan ada rumah makan yang
kelihatan bagus, lesehan nan asri denga khas tradisional, dengan kolam ikan dan
gazebo-nya, kami berhenti. Kebetulan tempatnya dekat dengan SPBU, sekalian isi
bensin, satu-persatu kami turun dari mobil menuju rumah makan yang indah itu,sedang Aku dan ‘Sang Driver’ menuju tempat pengisian
bensin. Setelah bensin diisi penuh, teman-teman datang memberitahukan bahwa
rumah makan tutup, entah karena apa, tak peduli alasannya. “Tutup”, kata salah
seorang teman sambil menghampiri kami menuju mobil. “Ayo kita berangkat, cari
yang lain lagi”, kataku, “tunggu Mas Jun” celetuk seorang teman, “Dimana mas
Jun” timpalku, “sedang ke toko” serempak mereka menjawab. Kami menunggu teman
satu yang sedang membeli keperluannya.
Setelah berkumpul kami
melanjutkan lagi perjalanan dan harus sejenak melupakan rasa lapar kami.
“Untung mobilnya sudah makan”, ‘Sang
Presiden’ mencoba melempar tawa. Kami pun terus terlibat percakapan intens
lagi, tentang Simkah, tentang FK-OSI, tentang pelayanan KUA, dan lainnya yang
ringan-ringan. Tak ada rasa ngantuk, tak ada rasa lapar yang serius, semangat
kembali lagi. Sesekali sambil ngobrol diantara kami ‘ber-handphone ria’, ada
yang fesbuk-an, ada yang sms-an, ada yang telpon-an.
Mobil masih melaju, mata kami
terus menatap keluar jendela mobil untuk mencari ‘’sesuatu” yang menjadi
perundingan diantara kami sebelumnya. “Rumah makan Gentong”, kataku mencoba
mengagetkan teman lain, segera mereka menengok ke sebelah kanan jalan, mobil pun
berhenti belok ke kanan. “Waduh, parkiran penuh, berarti enak makanannya dong”,
kita mencari pembuktian dengan logika sesaat. “Genthong”, Aku dan teman-teman
berjalan menuju rumah makan itu dengan sesekali mengucapkan kata itu. Genthong
sebagai nama dan ikon rumah makan pun berdiri tegak di depan jalan masuk.
Terasa indah memang, ada rumah makan di atas air dengan kolam yang banyak
ikannya, namun sayangnya, “airnya kok keruh”, Atful memprotes kenyamanan dan
keindahan rumah makan itu. “Iya, butek banget”, kataku mendukung. Namun, kami
tetap masuk, memang sangat ramai, kelihatannya ini rumah makan bergengsi,
pelanggannya orang-orang bermobil.
Setelah kami merapat di meja
bundar lesehan, segera kami membaca-baca daftar menu dan daftar harga, “wuuiih,
mahal amat”, ditambah ada pajak daerah 10 persen segala. Kami pesan dua paket besar
nasi liwet pepes ikan, semaksimal mungkin memilih yang paling ekonomis namun
berasa. Karena kami tetap ingat bahwa uang hasil patungan teman-teman ini harus
cukup hingga pulang nanti. Lama kami menunggu, “benar-benar liwet dulu dari
nol”. Terasa begitu lama kami menunggu, perut kami sudah tidak sabar, bahkan ‘Sang
Presiden’ dengan gerak-geriknya terlihat gusar sesekali kontak sana-sini
tentang pelaksanaan Munas yang akan digelar, sedang perjalanan masih cukup jauh.
Aku dapat merasakan kekhawatiran menggelayuti beliau, karena yang akan kami
datangi adalah sebuah acara yang pertama akan digelar secara nasional, walaupun
sudah dipersiapkan secara matang.
Setelah sekian lama menunggu,
akhirnya datang juga makanan yan kita tunggu-tunggu sejak tadi. Betul sekali,
dua buah ketel besar ditenteng oleh pelayan rumah makan, “benar-benar ndadak
liwet”, kata ini selalu terucap oleh kami semua. Tanpa menunggu lama, kami
semua dengan lahap menyantap makanan khas Sunda itu, apapun rasanya tidak
begitu penting, yang penting justru perut ini tidak “rewel” lagi. Sambil makan,
ada diantara teman kita yang memberikan komentar, “apik tempate thok”
(baik tempatnya saja). “Syukuri saja, toh kita tetap bisa makan, mungkin kita
tidak terbiasa dengan makanan Jawa Barat, lidah kita kurang bisa bersahabat”,
batinku mengguman. Walapun Aku sendiri merasakan tidak begitu nyaman dengan
makanan seperti ini, “Genthong oh genthong”. Ketika sudah pada tahap
penghabisan, teman-teman bilang “jan sambele pedese poll” (rasa
sambalnya pedas sekali). Aku juga ikut-ikutan bilang begitu, padahal Aku tak
merasakan itu karena Aku tak makan sambel banyak, karena Aku telat ngambil,
memang tinggal sedikit, tak apa-apa, tak jadi persoalan. Kami tidak begitu
kecewa dengan rumah makan Genthong, tapi kami juga tidak merasakan kepuasan,
kebersamaan dan nuansa perjuangan diantara kamilah yang mengalirkan darah
semangat untuk melanjutkan perjalanan menuju arena Munas FK-OSI di Cipanas.
Kami bergegas berdiri dan siap-siap untuk melanjutkan perjalanan lagi setelah
kubayar makanan tadi ke kasir. Tampaknya ‘Sang Presiden’ masih berkemas-kemas
merapihkan bawaannya termasuk Tablet dan HP-nya. Juga tidak lupa rokoknya.
Rumah makan Genthong menjadi kenangan
kebersamaan penggiat Simkah empat daerah: Banyumas-Cilacap-Purbalingga-Kebumen,
menyatukan kami dalam perjalanan yang mengesankan, sungguh indah, pertemanan
dan keakraban yang hanya berawal dari sebuah komunitas di dunia maya menjadi
perjumpaan darat yang nyata. Pak H. Fairuz, Mas Iqbal, Mas Aan, Pak Jun, Om
Atful, Pak Semi dan Aku sendiri, sekali lagi kenangan indah nan mengesankan.. “Genthong
oh Genthong!!!” *** (umar).
Selasa, 18 Desember 2012
Langganan:
Entri (Atom)
